Breaking News

Renungan : Jalan Salib Hidup Dengan Sutradara Anonim

                                                                       

ilustrasi
                                                                            Oleh Sr. Yovitha 

Tanggal 4 April 2022, hari paling tragis tapi mengungkapkan cinta yang paling dalam. Entah apa yang memicu dan siapa yang memicu kejadian ini bisa begitu viral karena begitu dramatis tanpa tahu siapa sutradaranya. Suatu pemandangan yang begitu menegangkan tetapi begitu bermakna telah terjadi pada hari itu dalam minggu sengsara sebelum memasuki pecan suci. Waktu menunjukkan kira – kira pukul 11.00 WITa, peristiwa itu begitu cepat berlalu entah sudah dirancang demikian atau memang kebetulan terjadi demikian. Seperti Anak Domba dibawa ke pembantaian dan Yesus diarak menuju tempat pengadilan. Demikianlah ke – 24 warga yang ingin mempertahankan haknya ditangkap dan diarak menuju mobil tahanan. Peristiwa ini sangat keji dan mengerikan, bagaikan serdadu yang beringas dan haus darah begitulah para petugas keamanan dengan sigapnya menangkap dan mengkawal ke – 24 orang yang sesungguhnya tidak bersalah tersebut dengan masing – masing dua anggota polisi seolah mereka itu akan melarikan diri atau melawan. Sejenak kita hampir tidak percaya tetapi ini kenyataan di depan mata banyak orang yang menonton di pinggir jalan. Sejenak dalam hati sempat merenungkan, apakah para polisi ini tidak lebih kejam dari para algojo yang menangkap dan menyeret Yesus. Sementara kita tidak tahu, siapa Pilatus yang membuat keputusan ini dan semoga Pilatus tidak mengulangi perbuatannya ketika mengadili Yesus dengan mencuci tangan. Apakah ada Anas dan Kayafas sudah lama menanti untuk ambil kesempatan untuk mengadili orang – orang ini? Ya, kebenaran itu harus dibayar sangat mahal; dengan perasaan, dengan darah dan air mata. Kebenaran itu mahal bahkan sangat mahal, Yesus sudah membayar dengan nyawa – Nya.

Sementara di pinggir jalan itu banyak wanita yang menangis, menangisi suaminya, menangisi saudaranya dan menangisi pengalaman yang pahit ini. Itu betul dan  baik tetapi kita harus ingat kata – kata Yesus kepada para wanita yang menangisi DIA, “janganlah kamu tangisi AKU tapi tangisilah dirimu dan anak-anakmu”…..Kata – kata ini begitu bermakana untuk peristiwa 4 April 2022, memang para wanita ini harus menangisi dirinya dan anak – anaknya karena sebentar lagi nasib mereka tidak menentu apa lagi masa depan anak – anak dan keturunan mereka, akan kemanakah mereka itu bila lahan mereka sudah tenggelam. Ini tangisan yang memilukan, tangisan yang harus didengar oleh para pengambil keputusan.

Setelah ke – 24 orang lewat dengan kawalan ketat dan perlakuan yang kurang manusiawi, lewatlah mobil – mobil mewah membawa para “tetua dan tuan tanah” untuk suatu tujuan yang tidak terlalu jelas maknanya. Kita tidak tahu apa peran dan tugas mereka masing – masing tapi sudah hampir pasti bahwa dalam hal ini mereka adalah “seseorang” yang punya peran cukup penting dalam drama penangkapan ke – 24 orang ini. Dalam kisah penangkapan Yesus jelas bahwa Yudas bermain di dalamnya. Demi 30 keping perak, dia berani menjadi penunjuk jalan bagi para algojo yang mau menangkap Yesus. Dalam situasi yang sangat hingar bingar kita juga tidak tahu, mungkinkah ada banyak Petrus di sana, penyangkalan dan pengkhianatan bisa terjadi pada saat – saat seperti ini karena setiap orang ingin selamat tetapi justru itu menunjukkan bahwa sikap macam ini adalah orang yang pengecut seperti Petrus.

Tentu saja sebagai pesakit di kursi pesakitan tidak punya kebebasan untuk memilih maka wajarlah kalau dalam situasi itu si pesakit mudah digiring pada opini public atau yang punya kuasa. Penyiksaan dengan alasan mulia Upacara Penghormatan terhadap bendera yang dilakukan berkali – kali rasanya agak janggal tapi itulah permainan kuasa, sekali lagi para pesakit tak punya pilihan tak ada yang membela, tak ada yang memberontak tetapi apakah itu akan berakhir? Kiranya tidak segampang itu untuk menutupi semua peristiwa ini, sekali lagi ini soal keadilan dan kebenaran.

Kiranya tidak berlebihan kalau setiap orang berhak untuk mencari keadilan maka mereka harus  dibiarkan untuk mencari kebenaran dan keadilan sampai menemukan jawaban entah dari siapapun tetapi yang bisa dipertanggungjawabkan. Kiranya semua yang bergerak di dalam peristiwa ini perlu tahu benar – benar pokok persoalan yang sedang dihadapi dan ditangani. Berikan jawaban yang benar dan tepat, logis dan bisa diterima. Kalau punya kepastian hukum dan jaminan masa depan yang jelas pasti semua orang yang waras akan mengerti dan menerima. Dalam hal ini kita perlu melihat kembali proses sejak awal dan hargailah setiap pribadi karena setiap pribadi punya hak untuk mempertahankan dirinya.

Bila kita bercermin pada Sang Pencipta, kita semestinya bertanya pada diri sendiri; siapakah aku ini di hadapanMu Tuhan? Siapakah aku ini yang mau mengadili sesamaku tanpa mendengarkan mereka? Kita akan diadili sesuai dengan perbuatan dan cara hidup kita masing – masing.

Saudara – saudariku yang sedang dalam ketidakpastian. Jangan takut, selama kita berjuang demi kebenaran pasti masih banyak orang yang tergerak hatinya demi kemanusiaan. Yesus berpesan: Jangan takut Aku menyertaimu setiap waktu. Pada akhirnya toh kita akan dihadapkan pada pengadilan yang sama yaitu pada saat pengadilan terakhir. Tuhan Yesus memberkati***

Tidak ada komentar