Breaking News

Masa Depan Literasi Ada Pada Komunitas Literasi

Aktivitas membbaca anak - anak di Komunitas Literasi Jari - Jari Kasih (foto istimewa) 
JONGFLORES – RUTENGMaju atau mundurnya literasi di Indonesia, sesungguhnya tergantung pada komunitas literasi itu sendiri karena  komunitas literasi tidak muncul begitu saja tetapi melalui usaha dan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak.

Hal ini dikatakan Dr Mantovany Tapung, salah satu nara sumber dalam webinar tentang literasi yang dilaksanakan oleh Lima Pilar Foundation, pada Sabtu (29/5/2020).

Mantovany Tapung mengatakan komunitas literasi tidak muncul begitu saja karena ada kegelisahan dan keresahan untuk berbuat sesuatu atas kenyataan yang dilihat dimana salah satu pemicunya adalah merespon terhadap kondisi rendahnya kualitas literasi padahal semuanya merupakan bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN).

Karena itu lanjut Mantovany kerja untuk membangun literasi yang baik harus dilakukan oleh banyak pihak, bukan dimonopoli pemerintah atau pemerintah daerah karena ujung tombak dalam membangun litersi adalah komunitas – komunitas literasi.

Namun Tapung menambahkan hingga saat ini masih ada ancaman terhadap hadirnya komunitas ini karena ketergantungan pada pihak lain seperti ketiadaan sumber dana dan atau kontribusi lain yang membuat pegiat literasi dengan komunitas literasi mudah putus asa.

“Mereka merasa tidak didukung sehingga minim inovasi dan kreatifitas mereka apalagi tidak memiliki alat ukur capaian. Kondisi seperti ini membuat mereka melaksanakan kegiatan literasi hanya sekedar menyenangkan diri sendiri,” kata Mantovany. 

Sementara pendiri dan owner Jari – Jari Kasih Literasi, Mikhael Ambong menuturkan tujuan awal, komitmen dan genuitas (keaslian) Gerakan Literasi harus menjadi spirit dalam setiap kegiatan sehingga tantangan dan kesulitan tidak menjadi beban dalam mengembangkan literasi yang hendak kita bangun.

“Apa pun yang hendak kita buat pasti memiliki tantangan dan kesulitan. Memang tidaklah mudah tetapi dengan niat baik dan spirit untuk memberikan yang terbaik bagi generasi muda maka kita harus berani melewati tantangan itu,” kata Mikhael.

Mikhael mengisahkan perjalanan panjang dalam menggeluti literasi dimana sejak awal hingga saat ini tidak memiliki apa – apa namun dengan semangat dirinya membangun komunikasi dengan mitranya di Jakarta, mereka dapat membantu untuk bersama – sama membangun dan mengembangkan literasi di Manggarai.

"Komunitas Jari – Jari Kasih tidak punya apa-apa dari awal sampai sekarang. Tapi saya mobilisasi semua jaringan saya di Jakarta untuk bersama-sama membangun dan mengembangkan literasi di tanah Manggarai ini. Beberapa sekolah di Jakarta menjadi mitra komunitas ini. Mereka mengirim buku-buku, tas, seragam dan lainnya. Saya membagikan semua itu secara gratis dengan anak-anak sekolah di sini. Anak-anak datang baca dan manfaatkan wifi gratis yang kita punya. Mereka senang, kita Bahagia," kisah Mikael. 

Menurut Mikhael, kekuatan komunitas literasi bukan terletak pada modal finansial, tapi pada jaringan sosial yang dimiliki untuk membantu dan mendukung kerja – kerja literasi yang optimal.

Pendiri Fidei Press ini optimis jika ada gerakan yang baik untuk mengubah dunia yang lebih baik pasti akan mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Meski demikian tambah Mikhael, dalam mengembangkan literasi ketersediaan buku yang sesuai dengan level usia dan kenginan anak sangatlah penting untuk mengundang simpati  dan daya tarik anak dalam membaca.

"Kami di sini (Komunitas Jari – Jari Kasih) ada banyak buku. Kita biarkan anak-anak untuk memilih sesuai dengan keinginan anak. Jangan paksa anak untuk membaca buku yang kita suka. Dia harus membaca yang dia suka. Yang paling penting adalah membangun kebiasaan membaca. Orang tua atau guru boleh datang menemani," jelas Ambong. 

Hal senada juga dikatakan Tarsi Gantura, M.Pd (Pegiat literasi dari Jakarta) yang menuturkan pentingnya literasi back maka diharapkan agar sekolah - sekolah juga dapat mengikuti pola yang dibangun oleh komunitas. Sekolah saat ini bukan lagi tempat yang asyik untuk membaca karena anak – anak hampir tidak punya waktu sedikit pun untuk membaca di sekolah.

“Kurikulum tidak memberikan ruang untuk itu karena dijejali pelajaran dari pagi sampai siang. Sedangkan perpustakaan yang menjadi tempat anak – anak membaca hanya untuk menumpukkan buku – buku pelajaran dan hampir tidak ada buku cerita di sana,” kata Tarsi. 

Karena itu, menurut Tarsi, sekolah-sekolah harus mendesain waktu khusus untuk membantu membangun kebiasaan membaca anak, sebagaimana kebiasaan di komunitas. Buku-buku cerita anak harus diadakan oleh sekolah-sekolah dan buku tersebut sesuai dengan konteks sosial-ekonomi anak. 

"Buku-buku anak Jakarta atau Jawa secara umum tidak sesuai dengan anak-anak yang ada di Indonesia Timur. Kontekstualisasinya tidak masuk dalam pikiran dan imajinasi anak," ujar Tarsi

Dirinya berharap, Pemda atau pemerintah maupun pengelola sekolah bisa memiliki keberpihakan anggaran atau alokasi keuangan untuk pengadaan buku yang sesuai menjadi kebutuhan.

“Jangan bicara literasi kalau kebijakan anggaran tidak pernah pro kepada anak-anak atau komunitas literasi karena itu hanya slogan politik yang hanya berbuih sesaat,”imbuhnya.

Tarsi mengutip kata – kata Paulo Coelho, novelis Brasil “ketika mau melakukan sesuatu, jangan lupa membawa cinta”.***(welano/tim)

Tidak ada komentar