Breaking News

FREN Gelar Workshop Project Fokus Dengan Pemangku Kepentingan

Panitia pelaksana berpose bersama para nara sumber usai kegiatan (foto welano)

ENDE JONGFLORES – Yayasan Flores Children Development (FREN) Ende menggelar kegiatan Workshop Project Foccuss dengan pemangku kepentingan yang ada di Kabupaten Ende untuk memberikan pemahaman kepada para stakeholder dan pemangku kepentingan yang ada di desa tentang pemenuhan dan perlindungan terhadap hak – hak anak.  

Kegiatan yang dimaksudkan untuk mendorong para stakeholder dan pemangku kepentingan berkomitmen memasukkannya ke dalam RPJMDes ini dilaksanakan di Aula Wisma Emaus pada Rabu (07/10/2020).

“Kita berharap ada replikasi dari program – program yang kami lakukan dalam kaitan dengan program pengasuhan responsif untuk anak usia 0-5 tahun, program pengasuhan positif  untuk orangtua yang anaknya berusia 6 -14 tahun, program pendidikan kecakapan hidup dan literasi keuangan untuk anak berusia 6 – 14 tahun, ada program yang berkaitan dengan anak yaitu karang taruna dan mendorong orang muda untuk berwira usaha,” kata Maria M. Pelapadi, Koordinator Yayasan FREN.

 Maria M. Pelapadi melanjutkan semua program yang dilaksanakan FREN merupakan spirit dalam  perlindungan anak karena perlindungan anak itulah yang menjadi roh dari semua program yang dilaksanakan. Dan lebih jauh dari semua itu adalah mendorong semua program tersebut untuk menjadi desa layak anak karena ketika desa layak anak terwujud maka harapan akan perlindungan terhadap anak akan terpenuhi sehingga pembangunan sumber daya manusia pun dapat tercapai.

Pelapadi melanjutkan Yayasan FREN melihat isu anak yang sering terjadi saat ini adalah kekerasan terhadap anak dimana tingkat kekerasan terhadap anak di 3 kabupaten (Ende, Sikka dan Flores Timur) yang menjadi wilayah kerja FREN masih sangat tinggi dengan faktor utama terjadi di dalam keluarga sendiri.

“Rata – rata orangtua mengasuh anaknya dengan menerapkan pola konvensional atau apa adanya dengan pengasuhan yang kita dapatkan sejak kita masih anak – anak maupun situasi yang ada di sekitar,” lanjut Maria Pelapadi.

Maria P. Pepaladi, Koordinator Yayasan FREN
 Maria Pelapadi menilai masih minimnya pengetahuan dan keterampilan orangtua dalam mengasuh anaknya sehingga hal – hal yang masih kurang seperti ini dapat diperbaiki dan ditingkatkan dalam mengasuh anak.

Lebih lanjut Maria menjelaskan, anak – anak pada usia 6 – 14 tahun pada saat mencapai tingkat pendidikan formal khususnya pada anak – anak kelas rendah dan kelas tinggi, pencapaian pendidikan formalnya masih sangat kurang dan dapat terlihat dari kemampuan anak dalam membaca, menulis dan berhitung. Dengan melihat kenyataan yang demikian, FREN menghadirkan beberapa program untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.

Tekad dan niat baik FREN dalam memberikan dampingan pembelajaran kepada anak – anak juga ditunjukan melalui  pendidikan kecakapan hidup dan literasi dimana anak dilatih untuk mengenali dirinya sendiri dan membentengi dirinya saat dihadapkan pada situasi dimana anak berada diluar sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Dan hubungan anak dengan orangtua dalam situasi semacam ini dapat menimbulkan konflik karena kemauan orangtua dan anak sangat berbeda. 

Pelapadi menuturkan FREN bersama orang muda lulusan SMA atau perguruan tinggi harus berani menciptakan lapangan kerja sendiri agar orang muda tidak hanya berorientasi untuk merantau dengan bekal pengetahuan yang minim sehingga sering terjadi persoalan human trafficking di perantauan yang pada akhirnya membuat anak tidak memiliki posisi tawar yang bagus dengan pemilik perusahaan atau tempat ia bekerja.

“Sesungguhnya desa memiliki potensi luar biasa yang dapat dikembangkan sendiri oleh orang muda sehingga tidak perlu lagi merantau. Dan ini kita dorong agar peluang berwira usaha bagi  orang muda dapat dilakukan,” tuturnya.

Dia juga menyebutkan sebagai lembaga yang konsentrasi terhadap anak FREN memiliki visi yang besar untuk terciptanya masyarakat madani yang memobilisasi sumber dayanya bagi kepentingan terbaik anak dengan misi mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada untuk mendukung tumbuhkembang anak secara optimal tanpa membedakan latar belakang budaya, suku, agama maupun ras dan memberikan perangkat praktis untuk mendukung tumbuhkembang anak sehingga terjadi perubahan baik bagi anak itu sendiri, keluarganya, masyarakatnya maupun pemerintahannya.

Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Ende, Vinsen Sangu yang lebih spesifik menyoroti peran pemerintah dalam mengatur hak sipil anak yang sampai saat ini kurang begitu diperhatikan. Pihaknya menilai, pemerintah sangat lemah dalam mengemas isu strategis tentang anak.

“Kita dapat melihat kenyataan ini dari intervensi anggaran untuk pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang begitu kecil,” tutur Vinsen.

Anggota DPRD Ende yang pernah mengabdi di LSM FIRD  ini menilai kepedulian terhadap perempuan dan anak, lingkungan maupun masyarakat pada umumnya lebih banyak datang dari LSM dan NGO luar yang konsen dengan isu – isu tersebut.

“Pemerintah menganggap isu perempuan dan anak adalah isu yang tidak seksi, sedangkan isu yang seksi bagi mereka adalah isu tentang jalan, tentang ATK, atau tentang infrastruktur lainnya,” lanjut Vinsen.

Terkait regulasi tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, pihaknya sedang mendorong Ranperda Kabupaten Layak Anak dimana Ranperda ini termasuk dalam 10 Ranperda lainnya yang belum dibahas DPRD Ende karena situasi COVID – 19.

Sementara itu penanggungjawab kegiatan, Frumensius Wegu menuturkan tujuan dilaksanakannya kegiatan motiavatif ini sebagai langkah dalam meningkatkan pemahaman peserta tentang faktor – faktor yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal dengan meliputi aspek perlindungan anak, pengasuhan, pendidikan karakter dan partisipasi anak.

Frumen melanjutkan kegiatan workshop ini juga dapat meningkatkan pemahaman peserta tentang regulasi dan peraturan pemerintah yang mendukung tumbuh kembang anak dalam lingkungan yang aman.

“Tujuan akhir dari seluruh rangkaian kegiatan hari ini merupakan sebagai rangsangan gagasan untuk meningkatkan dukungan pemerintah dan stakeholder terhadap program pemberdayaan anak dan orang muda melalui project foccuss yang dikembangkan Yayasan FREN,” pungkas Frumen.***(welano)

Tidak ada komentar