Breaking News

Bumdes Au Wula Salah Satu Bumdes Untuk Studi Banding Bagi Bumdes Lain Di Indonesia

Aktivitas di Bumdes Au Wula dalam mempersiapkan pesanan sayur untuk diantar (fotokaise)
ENDE JONGFLORES. Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Au Wula, Desa Detusoko Barat, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende mendapat tempat terindah sebagai salah satu Bumdes untuk dijadikan studi banding bagi Bumdes lainnya yang ada di Indonesia.

Hal ini dikatakan Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dirjen PPMD) Kemendes PDTT, Taufik Madjid melalui Video Converence (Vicon) pada Rabu (08/07) bersama Bupati Ende, H. Djafar H. Achmad,  Ketua DPRD Ende Fransiskus Taso dan Forkompinda beserta pejabat lain di Detusoko.

Menurut Dirjen Taufik, Bumdes Au Wula terpilih karena inovasi yang dilakukan dalam masa Pandemi COVID – 19 Bumdes Au Wula memiliki prestasi yang bagus, dedikasi yang tinggi serta fikiran yang membangun desa dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

"Bumdes Auwula bersama tiga Bumdes lainnya bisa dijadikan pilot project bagi Bumdes lainnya yang ada di Indonesia,” kata Taufik Madjid.

Taufik Madjid melanjutkan dalam situasi Pandemi COVID – 19 saat ini, tidaklah mudah memberikan sumbangsih terhadap pembangunan masyarakat namun Bumdes Au Wula mampu melakukannya melalui digitalisasi semua produk untuk bisa dipasarkan melalui aplikasinya.

"Terima kasih atas dedikasi dan sumbangsih dalam membangun terutama dalam masa Pendemi COVID – 19 seperti ini," lanjutnya.

Dia menambahkan, desa adalah halaman depan bangsa sehingga pembangunan dan pemberdayaan masyarakat melalui Bumdes sangat penting untuk dilakukan.

“Bumdes tidak perlu mengejar omzet namun yang lebih penting adalah pemberdayaan masyarakat demi pemulihan ekonomi apalagi di tengah pandemi COVID – 19 ini,” tambahnya.

Pihaknya berharap agar kerjasama antara masyarakat dengan Pemerintah terus dibangun dalam mengembangkan Bumdes karena kunci kesuksesan dalam menata Bumdes adalah kerjasama yang baik.

"Ende sangat luar biasa progresnya ke depan karena akan dijadikan pilot project bagi Bumdes lainnya karena sudah berhasil melakukan terobosan baru dalam menggairahkan perekonomian dan memulihkan ekonomi masyarakat. Untuk itu, para pendamping bisa mengoptimalkan pendampingannya terhadap Bumdes ini," ujarnya.

Sementara itu Kepala Desa Detusoko Barat, Ferdinand Watu menuturkan keberhasilan Bumdes Au Wula tidak terlepas dari peran banyak orang yang ada di belakang layar seperti para tukang ojek, pemilik kendaraan pick up, dan desa tetangga yang turut menyuplai sayur – sayuran untuk dijual.

Ferdinand Watu yang biasa disapa Nando Watu ini menjelaskan dua kegiatan yang menunjang kegiatan Bumdes Au Wula yaitu pariwisata dan membuka “Dapur Kita” di tengah Pandemi COVID – 19 dengan mengelolah ekowisata dan pertanian. Konsep wisata yang ditawarkannya pun cukup unik dengan menghadirkan wisatawan mengalami sendiri kehidupan masyarakat sebagai petani dna berinteraksi secara langsung dengan penduduk setempat.

“Konsep wisata ini dijalnkan secara natural dan melibatkan seluruh unsur masyarakat. Kami mengajak langsung para wisatawan untuk turun ke sawah, melihat sendiri proses pembuatan selai hingga mencicipi produk pangan lokal seperti sorgum dan beras lokal bangalaka,” tutur Nando Watu.

Ditambahkan Kades Nando, konsep wisata ini dapat memberikan dampak yang sangat berarti bagi masyarakat dimana lebih dari 1000 wisatawan asing telah mengunjungi Detusoko dan mencicipi paket wisata yang ditawarkan itu.

“Setiap wisatawan asing yang datang, kita siapkan penginapan di rumah – rumah warga dengan membayar Rp 150.000 per hari. Dan upaya ini dapat memberikan dampak langsung ke lebih dari 4000 petani dan penduduk lokal yang ada di Detusoko,” jelasnya.

Terkait Dapur Kita, Kades Nando mengungkapkan Bumdes Au Wula menyalurkan sayur – sayuran kepada pembeli melalui layananan online dan pihaknya mengantarkan pesanan sampai di tempat tujuan pembeli dengan menggunakan jasa ojek atau kendaraan pick up.

Dan untuk kelancaran pekerjaannya, pihak Bumdes Au Wula melakukan kerjasama dengan gereja yaitu Keuskupan Agung Ende dan Kevikepan untuk membantu dengan penyalurannya dilakukan dengan ojek tersebut.

Kades Nando berharap adanya pendampingan lanjutan dari Kementerian Desa untuk meningkatkan pemberdayaan dan perekonomian masyarakat desanya.

“Kita berharap adanya pendampingan lanjutan dari Kementerian Desa,” pungkas Nando.***(welano)

Tidak ada komentar