Breaking News

Pedagang Sayur Pasar Mbongawani Minta Pemerintah Tegaskan Pedagang Sayur Dari Luar



Dagangan sayur milik para pedagang sayur pasar Mbongawani yang dibawa ke DPRD Ende ( foto jongflores)
JONGFLORES ENDE. Para pedagang sayur yang sehari – hari berjualan di pasar induk Mbongawani Ende meminta Pemerintah Kabupaten Ende untuk mengambil sikap tegas terhadap pedagang sayur yang berasal dari kabupaten tetangga karena kehadiran pedagang sayur dari luar Ende sangat meresahkan pendapatan harian mereka.
Hal ini diungkapkan oleh Benyamin Beri, warga Lokoboko yang menjadi juru bicara para pedagang sayur dalam membuka dialog pada Senin (20/04/20) di Ruang Pertemuan Komisi, DPRD Kabupaten Ende.
Kehadiran para pedagang sayur yang didominasi para ibu papalele di Pasar Mbongawani ke gedung DPRD Ende dengan membawa barang dagangannya berupa sayur – sayuran dan dagangan lain yang tidak habis terjual ini diterima Wakil Ketua DPRD Ende, Emanuel Erickos Rede dan anggota DPRD Ende lainnya.
Mereka mengeluh lentaran hasil penjualan sayuran mereka menurun drastis akibat kehadiran para pedagang dari luar Ende yang menjual sayurnya dengan harga jauh dibawa standar harga yang selama ini ditransaksikan di pasar Mbongawani.
“Para penjual sayur dari kabupaten lain seperti Nagekeo dan Ngada datang membawa sayur yang sama jenisnya seperti kami tetapi dengan jumlah yang sangat banyak dan menjualnya dengan harga sama tetapi dalam ikatan yang lebih banyak. Ada juga yang berani menjualnya dengan harga yang lebih murah,” tutur Benyamin.
Benyamin bersama penjual sayur lainnya mengakui terjadinya persaingan harga dagangan mereka dimulai sejak bulan Februari lalu ketika Virus Corona mulai merebak di Indonesia.  
“Kami sangat merasakan sekali penurunan penghasilan yang sangat drastis terjadi sejak bulan Februari hingga saat ini sehingga kami datang untuk meminta bantuan pemerintah dan DPRD untuk memperhatikan nasib kami,” lanjut Benyamin Beri.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Wahyuni Reku, warga Watumbaru, Lokoboko yang mengatakan kalau tempat jualannya telah ditempati pedagang lain ketika dirinya tiba di pasar sehingga harus mencari tempat yang baru lagi padahal pembeli langganannya telah mengetahui tempat jualannya.
“Kami serba salah. Mau usir ya tidak enak karena kita sama – sama penjual sayur tetapi karena dibiarkan mencari tempat baru dagangan sayur kami malah tidak laku,” ucap Yuni Reku.
Menanggapi kedatangan para pedagang sayur yang datang dengan barang dagangannya ini, Wakil Ketua DPRD Ende, Emanuel Erickos Rede mempersilahkan mereka masuk ruang pertemuan untuk mendiskusikan persoalan yang terjadi. Kepada para pedagang sayur ini, Emanuel Erickos Rede atau Erick Rede mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang memiliki ototritas pasar yang ada di seluruh wilayah Kabupaten Ende untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi.
“Kita akan minta pemerintah untuk memperketat mobil – mobil sayur yang datang dari luar daerah agar pedagang sayur kita tidak rugi akibat mobilisasi sayur dari luar daerah yang berlebihan,” kata Erick.
Namun lebih jauh Erick akan mencoba telusuri keberadaan para pedagang sayur yang dikeluhkan mama – mama papalele ini yangmana betul – betul berasal dari dua kabupaten yang dimaksud ataukah orang – orang Ende yang mendatangkan sayur dari luar untuk menjual lagi di Pasar Mbongawani.   
Sedangkan tempat jualan yang dikeluhkan para pedagang sayur, politisi Nasdem ini mengatakan ketersediaan lapak yang ada di Pasar Mbongawani saat ini masih dalam pengerjaan yang belum rampung sehingga penempatan dan relokasi para pedagang hingga saat ini belum dilakukan.
Erickos Rede dalam kesempatan itu juga meminta data para pedagang sayur yang datang itu agar bisa diusulkan ke dinas terkait untuk mendapatkan bantuan ekonomi tanggap darurat dari dampak  COVID – 19.
“Kita akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mengusulkan mereka mendapatkan program bantuan tanggap darurat COVID – 19 karena saat ini pemerintahan daerah di seluruh Indonesia wajib melakukan relokasi anggaran dan reconfusing terhadap 3 bidang utama terutama di bidang kesehatan, jaringan pengamanan sosial dan dampak ekonomi dari wabah COVID – 19,” jelasnya.
Mendengar keluhan para pedagang sayur ini, Yohanes Don Bosco Rega menyampaikan saat ini memang diberlakukan pasar bebas bagi setiap pedagang atau siapa pun juga namun  dalam situasi seperti saat ini dampak dari COVID – 19 sangat dirasakan sehingga diperlukan adanya proteksi terhadap pedagang yang ada di wilayah ini agar kesejahteraan hidupnya bisa terjamin.
Hal senada juga diungkapkan oleh Mahmud Djega, yang menegaskan adanya pembatasan terhadap pedagang sayur yang berasal dari daerah lain karena Ende sendiri juga merupakan daerah penghasil sayur – sayuran sehingga sangat wajar kalau pedagang sayur kita yang harus kita utamakan untuk menjual di pasar – pasar yang ada di wilayah Ende. Pihaknya berharap ada ketegasan dari pemerintah untuk membatasi pedagang – pedagang dari luar agar pedagang sayur yang ada di Ende bisa hidup dari penjualan sayurnya di pasar.
“Kita harus hidupkan petani sayur kita karena mereka hidup dari situ. Kalau kita tidak proteksi mereka siapa lagi. Oleh karena itu kita harus batasi pedagang sayur dari luar daerah yang masuk ke Ende,” pungkas Mahmud.***(welano)

Tidak ada komentar